Jumat, 29 Januari 2016

Suamiku, kapan jadi imam shalatku?

Aku ingin diimami sholat oleh suamiku
=========================

Oleh : Lukmanul Hakim

Sebut saja namanya bu Siska (bukan nama asli). Bu siska adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki 2 orang anak. Usianya sekitar 50 tahunan. Sehari-hari, waktunya dihiasi dengan mengabdikan hidupnya dengan mengajarkan ilmu yang Allah titipkan kepadanya.

Selain aktiv sebagai seorang pengajar dan pendidik, dia juga merupakan sosok ibu rumah tangga yang taat suami dan taat dalam menjalankan agama. Seperti shalat yang selalu tepat waktu, shalat sunnah yang hampir tak pernah ketinggalan, tilawah Quran setiap hari 1 juz dll, aktivitas baik seperti itu sudah menjadi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Menurut ceritanya, kebiasaan seperti itu sudah ditanamnya sejak tinggal di pondok pesantren dulu. Jadi sampai saat ini, kebiasaan itu masih tetap terjaga. Alhamdulillah.

Pesantren? Ya betul  pesantren. Pesantren memang tempat pembentukan karakter, tempat untuk melatih sosialisai dengan sekitar, tempat untuk melatih kebiasaan baik dan tempat menimba ilmu tentunya.

Jika ingin menjadi orang baik, maka taati dan patuhi aturan pesantren. Jika tidak, langgar saja semua aturan yang ada di pesantren. Dan harus siap dengan berbagai resiko yang akan diberikan oleh pihak pesantren.

***

Saat nyantri dulu, bu siska termasuk santri yang aktiv dalam berbagai hal. Baik dalam ubudiyah, organisasi, pengajian dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sehingga kebiasaan baiknya itu sampai sekarang masih tetap berjalan. Ada perasaan tidak enak, jika ada satu yang terlewat. Misalkan dalam satu malam, ketinggalan shalat malam, atau hanya dapat witir, maka dia begitu bersedih karena tidak bangun lebih awal. Walaupun itu amalan sunnah, tapi dia mengnggapnya sebagai sebuah kerugian jika tidak dapat melakukannya. Begitulah, hari-harinya selalu dihabiskan dengan hal-hal yang penuh manfaat, berharap bahagia dunia akhirat.

***

Namun, dibalik ketaatannya kepada Dzat yang telah menciptakannya dan kesungguh-sungguhan dalam menjalankan perintah-Nya, dia harus rela bersuamikan dengan orang yang memililki kebiasaan sebaliknya. Ya, Memang jodoh itu, Allah yang pilihkan, Allah juga yang anugerahkan, kita hanya bisa rela dan ridho atas pemberian-Nya.

Walaupun demikian, dia tetap berupaya agar suaminya dapat menjadi imam yang selama ini diharapkannya. Imam shalat khususnya. Karena kemampuan membaca al-Quran suaminya sangat dibawah rata-rata, maka sang suami belum berani untuk menjadi imam shalatnya. Diawal pernikahan sang suami sudah berkomitmen, "mi 5 tahun pertama ini, papi belum bisa jadi imam shalat mami ya."

Dengan sabar bu siska menunggu waktu 5 tahun, berharap ada perubahan setelah 5 tahun berikutnya. Harapannya, semoga dalam waktu 5 tahun itu, cukup untuk belajar Tahsin al-Quran, sehingga sudah layak untuk menjadi imam shalatnya. Ada kesan tersendiri saat bermakmum kepada suami, apa lagi diakhiri dengan mencium tangan suami. Tapi kapan itu akan terwujud..? Semoga secepatnya. Begitu ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar