Selasa, 19 Januari 2016

Jangan tergesa-gesa ingin menyelesaikannya

Oleh : Lukmanul Hakim

“Assaalamu’alaikum...” suara salam seorang ikhwan di dekat pintu ruang DKM membuyarkan rasa kantukku seusai shalat shubuh tadi pagi.

“Wa’alaikum salam ..” aku jawab salamnya dengan penuh hormat

“Ustadz Deni ya...?” Tanya dia

“Iya betul mas. Kalau boleh tau, dengan mas siapa ya..? tanyaku

“Nama saya Hafidz ustadz, dari Jati Bening Bekasi” jawab dia

“Baik mas Hafidz. Ada yang bisa saya dibantu?” tanyaku lagi

“Begini tad, saya mau tanya,  disini ada program Tahfidz al-Quran ngga ya?” Tanya dia dengan nada pelan 

“Ada. Insya Allah disini kami sering mengadakan halaqoh tahsin dan tahfidz untuk bapak-bapak, waktunya setiap ba’da maghrib, yah sekedar mengisi antara waktu maghrib dan isya. Dan menerima storan hafalan al-Quran bagi mereka yang serius dan sungguh-sunguh ingin menghafalkannya. Karena zaman sekarang, sulit sekali menemukan orang yang ingin menghafal al-Quran itu. kalau ada yang ingin storan, yah kami layani. Kalau tidak ada, yah cukup kami ajarkan tahsin saja“ Jawabku

"Kalau saya ingin storan, kira-kira waktunya kapan ya tadz..? Tanya dia

"Terserah mas hafidz bisanya kapan. Ba'da shubuh insya Allah bisa, kecuali kamis dan sabtu ya, karena kedua hari itu saya ada jadwal diluar. Kalau mau ba'da maghribpun silahkan." jawabku jelas

“Alhamdulillah... Kalau begitu saya ambil selepas shubuh saja tadz. Insya Allah, saya usahakan ikut shubuh berjamaah bareng ustadz, setelah itu baru storan. ..” kalimat syukurpun keluar dari lisannya, dan terlihat rasa bahagia dari aura wajahnya.

"Silahkan dengan senang hati.." aku jawab dengan rasa penuh haru dan bangga. Masih ada anak muda yang semangatnya luar biasa.

Dan dia mulai menungkapkan sedikit perasaannya,

“Senang sekali saya ustadz, sudah beberapa kali saya kunjungi setiap masjid, menanyakan perihal program tahfidz ini. Tapi mereka jawab tidak tahu. Entah apa yang menyebabkan saya bisa sampai sini. Akhirnya dapat juga apa yang saya harapkan.” tutur dia

Dia melanjutkan, “Saya benar-benar ingin memperbaiki hafalan saya, hafalan saya nyaris tidak ada sama sekali, saya sedih sekali mas, jika hafalan saya harus hilang begitu saja..”

“Yang sabar ya mas, insya Allah selalu ada jalan keluar disetiap kesulitan.” Aku berupaya menenangkan.

"Sekarang usianya berapa mas..?" tanyaku lagi


"17 tahun tadz." jawab dia

"Masya Allah, barokallahu fiik, semoga Allah memberkahimu mas." ujarku penuh harap

“Ngomong-ngomong, kita ngobrol di ruang tengah saja yuk. Lebih luas dan nyaman” lanjutku sambil mengajaknya ke ruangan tengah, dimana ruangan itu sering digunakan untuk diskusi, ngobrol, melayani tamu dll.

“Baik tadz” diapun mau, aku ajak ke ruang tengah

***

Dengan posisi duduk berhadap-hadapan, aku mulai bertanya, “Boleh tau, kenapa hafalannya bisa ngga ada sama sekali? bagaimana ceritanya? "

Dia mulai menceritakan pengalaman menghafal al-Qurannya, “Begini ustadz. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ikut Daurah al-Quran dengan tema “50 hari hafal al-Quran” Disana saya ditargetkan harus menghafal minimal 10 lembar/hari, kadang 17 lembar. Di program itu lebih banyak menambah hafalannya dari pada murojaahnya.  Waktu untuk murojaah sangat sedikit.” Ungkapnya.

“Subhaanallah*.. Kok bisa begitu ya. Pantas saja jika mas hafidz mengeluhkan hafalannya saat ini. Semestinya tema yang tepat untuk Dauroh tsb adalah, '50 hari khatam stor al-Quran' bukan '50 hari hafal al-Quran'” ujarku

Akupun melanjutkan, “seseorang dikatakan hafal al-Quran, jika hafalannya yang berjumlah 30 juz itu sudah dapat diperdengarkan  didepan guru/pembimbingnya, para santri, atau yang lainnya. Sebagai bukti bahwa orang tsb sudah selesai menghafal al-Quran dan dapat membacanya dari awal sampai akhir tanpa meihat mushaf, baru ia layak mendapatkan syahadah atau ijazah atau sanad Tahfidz yang bersambung sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”

“Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, waktu menghafal tercepat dan efektif itu sekitar setahun lebih, itupun kalau otaknya super cerdas dan disiplin murojaah. Ada juga yang lebih dari itu. Yah sekitar 2 tahun, 2 tahun setengah, dan yang standar sekitar 3 tahun. Insya Allah, itu tidak sekedar menambah hafalan melainkan mengulang hafalan juga, sehingga hafalan baru tetap berjalan, begitupun hafalan lama tetap terjaga. Ya, intinya harus seimbang antara menambah dan murojaah hafalan. Bukan fokus menambah terus, tanpa memikirkan murojaah, nanti malah hilang, seperti yang mas Hafidz alami saat ini. Pun tidak melulu muroja’ah, sehingga tidak nambah-nambah. Sekali lagi, Se-im-bang.” jelasku, dengan agar dia termotivasi.

“Iya ustadz. Saya juga nyesel banget. Pokoknya sekarang saya ngga mau narget. Yang penting hafalan saya mutqin (kuat). Mohon bimbingannya ustadz” Ujar dia dengan nada cemas

“Insya Allah mas. Kita sama-sama belajar ya. Saya turut mendoakan, semoga Allah berikan mas Hafidz kemudahan dalam memperbaiki hafalan al-Qurannya, dengan tidak tergesa-gesa menyelesaikannya. Karena tergesa-gesa itu sifat syetan, datangnya dari syetan, sedangkan ketenangan datangnya dari Allah Subhanahu wata'ala. Oleh karenanya, hadirkan Allah saat kita berinteraksi dengan al-Quran, terlebih saat menghafalnya, agar ketenangan senantiasa menyertai kita.” ujarku berupaya menenangkan.

"Insya Allah ustadz. Terima kasih atas waktu dan motivasinya ya. Saya izin pamit ya, mau siap-siap ke sekolah."

"Sama-sama mas. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan disetiap urusan mas Hafidz, amiiin."

"Amiiin.. Terima kasih doanya. Jazaakallahu khoir ustadz."

"Waiyyaakum"

"Saya izin pamit ya ustadz, mau siap-siap berangkat sekolah. Wassalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam warohmatullah."


Pesan singkat dari cerita ini adalah, janganlah kita tergesa-gesa dalam mempelajari kitabullah karena ingin cepat menguasainya. Entah itu membacanya, menghafalnya ataupun mengkajinya. Sebagaimana pesan ini diabadikan dalam Qs. al-Qiyaamah:16,  

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu (Muhammad) karena hendak cepat-cepat menguasai bacaan Al-Qur'an!” (Qs. Al-Qiyamah:16)

****



Semuanya butuh proses, dan nikmatilah prosesnya itu. Sungguh, seberapapun lamanya kita menghafal al-Quran, Allah akan hitung sebagai sebuah kebaikan. Semoga cerita diatas menginspirasi para pembaca sekalian.





Bekasi, 20 Januari 2016


                                            

                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar