Jumat, 01 Januari 2016

Macam-macam Hafidz

Bismillah...

1. Hafizh Setoran
Ini merupakan kategori Hafizh yg paling banyak terdapat dimana-mana, hanya selesai setoran 30 juz saja tapi setelah itu banyak yang hilang, yang tersisa sebagian kecil saja. Hal tsb disebabkan karena kurangnya semangat untuk muraja'ah (mengulang), atau karena kesibukan, atau karena targetnya ingin selesai setoran saja (pernah menghafal). Hafizh semacam ini sering mengalami futur karena bebannya terlalu besar dan merasa hafalannya tidak lengket-lengket sehingga mudah mengantuk dan putus asa. Alangkah nikmatnya jika ia menghafal sedikit-sedikit kemudian menguatkannya dan terus menjaganya, sambil menambah yang baru. Karena muraja'ah itu wajib (harus) sementara menambah hafalan baru itu sunnah (baca: utamakan yang wajib; muroja'ah)

2. Hafizh Pesantren
Hafizh kategori ini biasanya rajinnya ketika di Pesantren saja, dan akan lalai ketika berada di luar pesantren atau ketika liburan pulang kampung. Kadang tidak itu saja, di Pesantren pun ia rajin ketika di hari aktif saja, dan di saat libur akhir pekan sudah terlihat bibit-bibit kelalaian itu. Hafizh kategori ini sangat mengkhawatirkan, ia butuh lingkungan yg mendukung dan support dari orang-orang sekitarnya jika ingin tetap terjaga hafalannya.

3. Hafizh Musabaqah
Hafizh kategori ini tidak dipungkiri lagi dari segi keindahan suara dan kelancaran di atas rata-rata. Kegiatannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain dalam rangka mengikuti musabaqah. Makanya tidak heran jika Hafizh kategori ini 'kadang' akhlaqnya tidak sesuai dengan ayat-ayat yang dihafalnya, tidak jarang dari mereka yang masih merokok, berpacaran, berkhalwat antara laki-lakidan perempuan, tidak menjaga shalat berjamaah di masjid, suka main game, nonton televisi, dll. Ibarat kata, hafalan mereka hanya sampai di tenggorokan saja.

4. Hafizh Sejati
Hafizh kategori ini yg harus kita contoh. Dia akan terus menjaga Al Qur'an hingga maut yg memisahkan, tidak terpengaruh tempat atau waktu, tidak terpengaruh apakah dikontrol oleh Ustadznya atau tidak, tidak terpengaruh dgn hari libur, tidak mengharap pujian, dan kesehariannya selalu diikuti komitmen yg kuat dari dalam dirinya sendiri.
Akhlaqnya baik, karena ia selalu berusaha mengamalkan ayat2 yg ia hafalkan. Hafalannya menjd wirid harian dan bacaan shalatnya yg panjang. Kalaupun ia mengikuti Musabaqah bukan krn mengejar hadiah dan popularitas, tetapi karena menjadikannya sebg sarana untuk menguatkan hafalannya.
Nah..ada di poin nomor brp kah kita?

Semoga kita semua digolongkan menjd Ahlul Qur'an yg Istiqomah hingga maut memisahkan kita, aamiin.

#Nasehat untuk diriku yg masih lalai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar