Oleh: Lukman
Sebagai supir masjid (baca: Imam Masjid), dodo selalu mengingatkan jamaahnya untuk mensilent atau menon aktivkan handphone ketika akan memulai shalat berjamaah.
Menurutnya, akan sangat mengganggu kehusyuan shalat jika ada suara handphone saat shalat berlangsung.
"Luruskan dan rapatkan shafnya. Yang bawa alat komunikasi harap disilent atau dinon aktivkan. Jika terdengar suara handphone berdering maka handphonenya harus rela dijadikan doorprize. Untuk disedekahkan ke Masjid yang kebetulan saat ini sedang membuat tempat wudhu." Begitu ungkapnya setiap shalat akan dimulai.
Dan para jamaah pun serentak menonaktivkan handphonenya. Khawatir handphone yang mereka sayangi diambil dan dijadikan doorprize.
Padahal, mau dijadikan doorprize atau tidak, yang namanya mensilent hp saat di tempat ibadah adalah suatu keniscayaan. Tidak boleh tidak. Harus.
Mari kita lihat penduduk Jepang. Kebanyakan dari mereka adalah Atheis. Tapi dari segi tatakrama, mereka lebih islami dari kita. Bisa kita ambil contoh saat ia masuk kereta, hape mereka semuanya silent. Tidak ada yang berdering. Bahkan tidak terlihat satupun yang pegang hape, yang ada mereka baca buku. Inilah kebiasaan baik mereka. Yang perlu kita tiru.
Kita..?
Jangankan di dalam kereta, saat seminarpun, di tempat ibadah pun, di mana pun, belum bisa mensilent hape. Perlu kita ketahui, sebenarnya orang-orang sekitar kita merasa terganggu saat hape kita berbunyi di tempat umum, hanya saja mereka tidak enak untuk menegurnya.
Oleh karenanya, mari mulai saat ini, kita silent hp kita di tempat-tempat yang memang seharusnya disilent.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar