=====================
Oleh: Lukman
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang mantan preman yang ingin mengaji al-Quran. Awal dia mengenalku melalui akun facebook, lalu meng-inbox dan minta bertemu.
Saat awal bertemu, dia mengaku menyesal dengan masa lalunya dan ingin sekali bertaubat. Disela-sela waktu kosongnya dia rajin sekali ke masjid agar bisa belajar al-Quran seusai shalat berjamaah. Dan rutinitasnya itu berlangsung cukup lama. Senang dan bahagia melihatnya saat melihat seseorang yang berhijrah dari masa lalunya yang tak tentu arah menjadi terarah.
Sampai suatu ketika, dia meminta izin hendak pulang ke kampung halamannya, dengan alasan orang tuanya akan menikahkannya dengan seorang gadis di desanya. Akupun memepersilahkan dan berharap semoga semuanya dimudahkan.
Setelah kepulangannya itu, sepi tak terdengar lagi suara mengaji. Dan selama beberapa bulan kemudian pun tak ada kabar sama sekali. Baik lewat sms, tlp, wa, ataupun inbox. Di wa, ceklis 1. Ditlp, tidak tersambung. Disms, tidak ada balasan. Ah, mungkin sedang sibuk. Ah mungkin sedang tidak pegang hp dll. Begitu pikirku waktu itu. Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin disampaikan, sekedar ingin tahu kabar saja. Tidak lebih.
Dan beberapa hari yang lalu, sempat melihat status facebooknya melintas di berandaku. Entah isinya apa, lupa lagi. Dan yang membuatku miris adalah sebuah pengakuan temanku yang saat ini bekerja di luar negeri, dia mengaku mendapatkan kiriman gambar yang sangat tidak senonoh via inbox. Aku seperti tersentak dan tak habis pikir. Orang yang selama ini sudah ku anggap baik dan bertaubat dari masa lalunya, ternyata berbuat demikian.
Tanpa pikir panjang, aku cari nama dia di daftar pertemananku, setelah ketemu, aku kirim tulisan nasihat via wall facebook dengan cara menandainya. Namun privasi tidak publik melainkan hanya saya. Ini bermaksud, agar hanya aku dan dia yang dapat membacanya.
Isi pesanya kurang lebih agar dia segera meminta maaf dengan yang bersangkutan. Meminta maaf kepada Allah, menyesalinya dan jangan pernah mengulangi lagi. Juga mengingatkan bahwa dia sudah beristri, tidak layak seseorang sudah beristri mengirim gambar jorok ke wanita yang bukan istrinya. Tapi sampai saat ini belum ada respon darinya. Entah ia malu karena perbuatannya ketahuan olehku atau bagaimana aku tak tau.
Barusan aku coba buka lagi, sekedar ingin tahu apakah sudah ada balasan berupa penyesalan atau sekedar dibaca dan diabaikan, atau ia melakukan hal lain dengan akun facebook-ku. Setelah ku buka, tidak ada balasan apa-apa dan tidak ada lagi tanda (tag) dengan nama dia lagi, lalu aku klik namanya di kolom pencarian pun tidak dapat terbuka. Dan ternyata benar, dia memblokir akun facebook-ku.
Pertanyaanku adalah, apakah ini yang dinamakan lelaki? Sama sekali bukan. Lelaki itu harus berani. Berani mengakui kesalahan. Dan meminta maaf kepada yang bersangkutan.
Bukan seperti ini cara menyelesaikan persoalan. Memblokir sama dengan memutus silaturrahim antar teman. Ya, karena kita berada di tempat yang berbeda dan berjauhan.
Salam, Lukman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar